Sabtu, 14 Juni 2008
Pasrah
kala beban berat itu menderaku
kucoba dengan segala kekuatanku
untuk tetap berdiri
dan tegar tersenyum
meski dalam hatiku
luluh lantak remuk redam
serasa tak terbentuk lagi
karena masih ada rasa percaya itu
tak kau beri beban diluar kemampuan hambamu
hanya padamu aku berbagi beban itu
dengan doaku
dengan dzikirku
dengan tahajudku
dengan cucur air mataku
ku coba meletakkan sejenak beban itu
namun beban itu begitu berat
serasa sudah mencapai puncak pertahannanku
sudah habis semua dayaku
namun yang kurasakan
semakin dan semakin beban itu bertambah
kau katakan kau selalu mendengar doaku
kau katakan kau akan selalu mengabulkan doa
kau katakan jangan pernah putus asa
kau katakan kau selalu didekatku
namun mengapa begini
seperti aku tertinggal sendiri
hingga timbul tanya dihati
kalau putus asa itu dosa
mengapa doa terasa tak terjawab
kalau putus asa itu dosa
mengapa usaha terasa tak berbekas
kalau putus asa itu dosa
mengapa upaya terasa sia-sia
mengapa... mengapa...
mengapa semua begitu berat
dan aku tertinggalkan sendiri
dan batinku berteriak
yaa kariim . . . .
jangan tinggalkan aku sendiri
dan dipuncak putus asaku
kau sadarkan jiwaku
bahwa semua yang ada adalah milikmu
bahwa semua terjadi atas kuasamu
bahwa semua berjalan atas kehendakmu
bahwa semua ini sudah dalam rencanamu
dan aku
berada dalam egoku
untuk mendapat apa yang bukan milikku
berat itu ada
karena keinginan yang melebihi batas
sendiri itu terasa
karena hati terbelenggu rasa
bila egoku tak berkuasa
tak kan ada tanya itu
karena memang seharusnya
doa itu
dzikir itu
tahajud itu
air mata itu
hanya untukmu semata
Allah..
kini aku pasrah dan berserah
untuk menjalani semua titah
kucoba dengan segala kekuatanku
untuk tetap berdiri
dan tegar tersenyum
meski dalam hatiku
luluh lantak remuk redam
serasa tak terbentuk lagi
karena masih ada rasa percaya itu
tak kau beri beban diluar kemampuan hambamu
hanya padamu aku berbagi beban itu
dengan doaku
dengan dzikirku
dengan tahajudku
dengan cucur air mataku
ku coba meletakkan sejenak beban itu
namun beban itu begitu berat
serasa sudah mencapai puncak pertahannanku
sudah habis semua dayaku
namun yang kurasakan
semakin dan semakin beban itu bertambah
kau katakan kau selalu mendengar doaku
kau katakan kau akan selalu mengabulkan doa
kau katakan jangan pernah putus asa
kau katakan kau selalu didekatku
namun mengapa begini
seperti aku tertinggal sendiri
hingga timbul tanya dihati
kalau putus asa itu dosa
mengapa doa terasa tak terjawab
kalau putus asa itu dosa
mengapa usaha terasa tak berbekas
kalau putus asa itu dosa
mengapa upaya terasa sia-sia
mengapa... mengapa...
mengapa semua begitu berat
dan aku tertinggalkan sendiri
dan batinku berteriak
yaa kariim . . . .
jangan tinggalkan aku sendiri
dan dipuncak putus asaku
kau sadarkan jiwaku
bahwa semua yang ada adalah milikmu
bahwa semua terjadi atas kuasamu
bahwa semua berjalan atas kehendakmu
bahwa semua ini sudah dalam rencanamu
dan aku
berada dalam egoku
untuk mendapat apa yang bukan milikku
berat itu ada
karena keinginan yang melebihi batas
sendiri itu terasa
karena hati terbelenggu rasa
bila egoku tak berkuasa
tak kan ada tanya itu
karena memang seharusnya
doa itu
dzikir itu
tahajud itu
air mata itu
hanya untukmu semata
Allah..
kini aku pasrah dan berserah
untuk menjalani semua titah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar